kebersamaan yang indah dan dan membawa berkah
Berada di tempat yang sama belum tentu memiliki kebersamaan. Mengerjakan sesuatu bersama-sama juga tidak selalu berarti menunjukkan kebersamaan. Kebersamaan yang dibatasi oleh tempat dan pekerjaan bahkan seringkali malah sering menimbulkan masalah yang bisa memecah kebersamaan. Jadi, yang paling penting bukan di mana kita bersama, melainkan bagaimana kita bersama. Bukan tentang bagaimana kita mengerjakan sesuatu bersama-sama, melainkan bagaimana kita meletakkan hati kita bersama-sama.
Bagaimana Tuhan memandang kebersamaan? Seperti apakah kebersamaan yang sejati itu? Bagaimana menciptakan kebersamaan seperti ini?
Istilah “saudara-saudara” (’aḥîm) bisa digunakan dalam konteks keluarga. Jika digunakan dalam konteks seperti ini, kata ’aḥîm merujuk pada saudara-saudara dalam keluarga inti maupun keluarga besar. Apa yang dituliskan dalam mazmur ini juga sangat cocok dengan konteks keluarga. Siapa yang tidak menginginkan kebersamaan dalam sebuah keluarga? Bagi yang sudah memilikinya pasti tahu betapa indahnya kebersamaan semacam itu.
Walaupun Mazmur 133 bisa diterapkan dalam konteks keluarga, penggunaannya di masa lampau mungkin bukan seperti itu. Mazmur ini dipakai dalam konteks yang lebih luas, yaitu seluruh umat Tuhan (Bangsa Israel). Mazmur 133 merupakan salah satu mazmur ziarah. Dalam budaya Indonesia terjemahan “ziarah” bisa disalahpahami dan dikaitkan dengan kuburan.
Dalam teks Ibrani ini disebut šîr hamma‘ălôt, yang secara hurufiah berarti “Nyanyian Pendakian”. Maksudnya, nyanyian ini seringkali digunakan untuk ibadah di Yerusalem pada saat bangsa Israel dari berbagai tempat naik ke pegunungan Yudea di mana bait Allah berada. Posisinya di antara dua mazmur ziarah yang lain (Mzm. 132 dan 134) semakin menegaskan poin di atas. Jika benar demikian, istilah ’aḥîm di ayat 1 sebaiknya dipahami sebagai “saudara-saudara sebangsa atau seiman” (baca: seluruh umat TUHAN).