Masi ada pengharapan
Renungan malam:
Peringatan kepada perempuan-perempuan
Yerusalem(Yesaya 32:1-6)
19 November 2020
Pada ayat 1-8 nabi Yesaya mengungkapkan harapannya kepada bangsa
Yehuda, yaitu terwujudnya keadilan di Israel. Telah diungkapkan di
pasal 28:7-19 bahwa para pemimpin Yehuda berlaku korup dan tidak
adil. Karena itu sang nabi mendambakan munculnya seorang raja yang
berlaku adil, yang menegakkan pemerintahan atas dasar keadilan.
Bila sang raja berlaku adil, bawahannya pun akan bertindak adil.
Dalam hal ini sang nabi mengkritik tindakan raja. Di satu sisi, jika
raja atau pemimpin Yehuda adil maka jalannya kepemimpinan di
seluruh Yehuda akan didasarkan atas dasar keadilan (1-8). Di sisi
lain, yang terjadi adalah pemimpin di Yehuda berlaku korup
sehingga ketidakadilanlah yang terjadi. Tak heran bila nabi
mengharapkan Allah mengutus seorang mesias, raja yang akan
menegakkan keadilan di bumi Israel. Pengharapan sang nabi dapat
digolongkan sebagai pengharapan mesianis.
Setelah mengungkapkan harapannya, nabi mengajarkan bahwa semua
tindakan ada konsekuensinya. Ungkapan "perempuan-perempuan" pada
ayat 9-20 lebih berarti kota Yerusalem (kota dalam bahasa Ibrani
dipakai dalam bentuk feminin, dan kota Yerusalem sering juga
disebut "putri Sion" menurut kelaziman waktu itu). Bangsa Yehuda
(dalam hal ini diwakili ibukotanya, Yerusalem, yang saat itu
disebut dengan "perempuan-perempuan") merasakan aman dan tenteram.
Ini tentu karena mereka mendapat perlindungan dari Mesir di bawah
ancaman Asyur (9-14). Namun keamanan itu bersifat semu, sebab
mereka akan hancur jika memohon perlindungan dari yang bukan
Tuhan.
Akan tetapi, ada saat Tuhan akan membela umat-Nya dan akan mencurahkan
keadilan di bumi Yehuda (15-20). Ternyata masih ada pengharapan
bahwa Tuhan akan menegakkan keadilan bagi umat. Itulah pengharapan
bagi umat di tengah kesulitan.
Tuhan memang akan selalu bertindak adil terhadap orang berdosa. Ia
akan menjatuhkan hukuman terhadap orang itu. Namun kesempatan
untuk berbalik kepada Tuhan dan bertobat, tidak pernah tertutup.
Maka datanglah kepada-Nya.
Yehuda, yaitu terwujudnya keadilan di Israel. Telah diungkapkan di
pasal 28:7-19 bahwa para pemimpin Yehuda berlaku korup dan tidak
adil. Karena itu sang nabi mendambakan munculnya seorang raja yang
berlaku adil, yang menegakkan pemerintahan atas dasar keadilan.
Bila sang raja berlaku adil, bawahannya pun akan bertindak adil.
Dalam hal ini sang nabi mengkritik tindakan raja. Di satu sisi, jika
raja atau pemimpin Yehuda adil maka jalannya kepemimpinan di
seluruh Yehuda akan didasarkan atas dasar keadilan (1-8). Di sisi
lain, yang terjadi adalah pemimpin di Yehuda berlaku korup
sehingga ketidakadilanlah yang terjadi. Tak heran bila nabi
mengharapkan Allah mengutus seorang mesias, raja yang akan
menegakkan keadilan di bumi Israel. Pengharapan sang nabi dapat
digolongkan sebagai pengharapan mesianis.
Setelah mengungkapkan harapannya, nabi mengajarkan bahwa semua
tindakan ada konsekuensinya. Ungkapan "perempuan-perempuan" pada
ayat 9-20 lebih berarti kota Yerusalem (kota dalam bahasa Ibrani
dipakai dalam bentuk feminin, dan kota Yerusalem sering juga
disebut "putri Sion" menurut kelaziman waktu itu). Bangsa Yehuda
(dalam hal ini diwakili ibukotanya, Yerusalem, yang saat itu
disebut dengan "perempuan-perempuan") merasakan aman dan tenteram.
Ini tentu karena mereka mendapat perlindungan dari Mesir di bawah
ancaman Asyur (9-14). Namun keamanan itu bersifat semu, sebab
mereka akan hancur jika memohon perlindungan dari yang bukan
Tuhan.
Akan tetapi, ada saat Tuhan akan membela umat-Nya dan akan mencurahkan
keadilan di bumi Yehuda (15-20). Ternyata masih ada pengharapan
bahwa Tuhan akan menegakkan keadilan bagi umat. Itulah pengharapan
bagi umat di tengah kesulitan.
Tuhan memang akan selalu bertindak adil terhadap orang berdosa. Ia
akan menjatuhkan hukuman terhadap orang itu. Namun kesempatan
untuk berbalik kepada Tuhan dan bertobat, tidak pernah tertutup.
Maka datanglah kepada-Nya.