~refferensi~tentang~dimensi~spiritualitas~kristen.

Spiritualitas Kristen:

1.      Pengertian  Istilah (Spiritualitas)
Untuk memahami Spiritualitas Kristen, kita akan melihat satu per satu arti dari tiap kata. Kata yang pertama adalah kata “spiritualitas”. Salah satu kegiatan yang mempunyai peran penting dalam perkembangan individu adalah spiritualitas.
Kata “spiritualitas” berasal dari bahasa Latin spiritus, artinya roh, jiwa, atau semangat, yang memilki padanan arti dengan bahasa Ibrani ruach atau bahasa Yunani pneuma yang berarti angin atau napas, yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “semangat yang menggerakan” . kata spirit sering dipertentangkan dengan kata “materi” (Yunani: soma; Latin:corpus), namun pengertian demikian tidaklah tepat. Penggunaan secara dikotomis yang sebenarnya lebih mengarah pada melawan Roh Tuhan adalah kata “daging” (Yunani: sarx). Spiritualitas merupakan perwujudan hidup dalam Roh Tuhan atau hidup yang dibaktikan kepada Tuhan.
Bertolak dari makna spiritus, makaspiritualitas diberi makna keadaan kehidupan atau kepribadian seseorang yang di dalamnya terkandung kekuatan rohaniah, kekuatan hidup, semangat hidup.
¨  Menurut KBBI, spiritualiatas berasal dari kata ‘spiritual’ yang berarti yang berhubungan dengan  atau bersifat kejiwaan (rohani, batin).
¨  Menurut Wikipedia[1]spirituality may refer to religion, spirituality a concern with matters of the spirit. Artinya Spiritualitas menunjuk pada agama, dan berkaitan dengan berbagai hal tentang roh, semangat.
¨  Mark McIntosh mendefenisikan :
Spirituality… involve a form of practice , a pattern of life in search of ultimate meaning. For Christians this practice most ussualy involves  the belief that communion with Jesus Christ is the way of encountering ultimate meaning. The story of Jesus becomes in various ways the story within which Christian seek to live their live, discovering in this particular unsubstitutable path the transforming companionship of God.”[2]Artinya, spiritualitas melibatkan bentuk praktek, pola hidup.bagi orang-orang Kristen praktik ini biasanya termasuk dalam persekutuan dan perjumpaan terakhir dengan Yesus Kristus.  Berbagai macam Cerita tentang Yesus yang di dalamnya orang Kristen mencari hidup dan menemukan  fakta-fakta yang belum mampu dibuktikan menuju jalan perubahan dan pendekatan kepada Allah.
¨  Alister E. McGrath[3] memberi defenisi dasar tentang ‘Spiritualitas’ yaitu:
suatu usaha mendapatkan kehidupan religius yang otentik dan penuh, yang melibatkan usaha menyatukan ide-ide khas agama yang bersangkutan serta seluruh pengalaman hidup atas dasar dan lingkup .
(2). Spiritualitas berkaitan dengan kehidupan iman yakni apa yang mendorong  dan memotivasinya dan apa yang menurut orang-orang apa yang bisa membantu untuk melanggengkan dan mengembangkannya.
(3). spiritualitas berkaitan dengan cara bagaimana kehidupan Kristen dipahami serta dihayati. Spiritualitas merupakan benteng terluar dalam kehidupan nyata iman religious seseorang, apa yang dilakukan orang bila mereka percaya. Spiritualitas tidak sekedar menyangkut ide-ide, meskipun ide-ide dasar iman Kristen sungguh penting bagi spiritualitas Kristen.
George Ganss,[4]mengemukakan bahwa, spiritualitas merupakan pengalaman yang dihayati, suatu upaya untuk mengaplikasikan berbagai unsur yang relevan dalam khazanah iman Kristen yang dapat membimbing perempuan dan laki-laki menuju pertumbuhan spiritual mereka, menuju perkembangan progresif pribadi-pribadi mereka dan yang berkembang secara proporsional menjadi sukacita dan pengertian yang semakin besar.
Dengan demikian  istilah spiritualitas secara komprehensif diartikan sebagai cara yang dianggap lebih cocok untuk menyebut berbagai aspek praktek devosi[5] suatu agama, dan secara khusus untuk menyebut beraneka ragam pengalaman batin orang beriman. Bagi kekristenan, spritualitas berkaitan dengan bagaimana menghayati perjumpaan dengan Yesus Kristus.
2.      Spiritualitas Kristen
Spiritualitas Kristenmenunjuk pada cara bagaimana kehidupan Kristen dipahami dan bagaimana praktek-praktek devosi secara eksplisit telah dikembangkan untuk membantu menumbuhkan dan melanggengkan hubungan dengan Kristus.
Louis J Puhl  mengungkapkanspiritualitas Kristen sebagai :
By the term spiritual Christian is meant  every method of examination of conscience, of meditation, of contemplation, of vocal and mental prayer, and of other spiritual activities that will be mentioned later. For just as taking a walk, journeying on foot, and running are bodily exercises, so we call spiritual Christian every way of preparing an disposing the soul to rid itself of all inordinate attachment and after their removal, of seeking and finding the will of God in the disposition of our life for the salvation of our soul[6]
artinya istilah spiritualitas Kristen berarti setiap metode untuk menguji hati nurani, meditasi, perenungan, doa-doa yang berkaitan dengan jiwa, dan seluruh kegiatan spiritualitas yang akan disebutkan kemudian. Sebab hanya dengan berjalan dan melakukan perjalanan kaki dan berlari merupakan latihan badani, sehingga kita menyebutnya spiritualitas Kristen yakni, menyiapkan jalan dan menempatkan dan menemukan hati yang bersih, mencari dan menemukan Allah  dan menempatkannya dalam kehidupan kita sebagai keselamatan jiwa.
Untuk memahami spiritualitas Kristen kita perlu memahami bahwa kekristenan memiliki tiga unsur:[7]
1.      Kekristenan sebagai serangkaian keyakinan. Meskipun ada berbagai perbedaan di antara orang-orang Kristen dalam sejumlah masalah doktrin, namun relative mudah menunjukan bahwa ada suatu inti keyakinan bersama yang  ada di balik beraneka versi kekristenan. Hal ini diuraikan dalam syahadat kekristenan yang diterima sebagai pernyataan iman oleh seluruh gereja Kristen utama.
2.      Kekristenan sebagai serangkaian nilai. Kekristenan merupakan iman yang sangat kuat terkait dengan etika. Nilai-nilai yang terkait dengan karakter Yesus dari Nazaret yang dipandang sebagai landasan kehidupan iman sekaligus teladan tertinggi dari suatu kehidupan yang dihayati dalam persaudaraan erat dengan Tuhan. Maka dari itu, kehidupan yang dipenuhi oleh ‘spirit’ diharapkan mencerminkan serta mengejawantahkan nilai-nilai Kristen.
3.      Kekristenan sebagai sebuah cara hidup. Menjadi seorang Kristen tidak sekedar soal merengkuh serangkaian kepercayaan serta nilai; melainkan berkaitan dengan kehidupan nyata di mana berbagai ide serta nilai itu dinyatakan dan diejawantahkan dalam cara hidup yang nyata.
            Spiritualitas berfokus pada interior life (R.Maas; 1990:13)sebuah pencarian pada Allah dan pertumbuhan relasi dengan Yesus Kristus yang tersembunyi dalam hati dan pikiran (Rm.15:13; Flp.4:7; Kol.3:15). Pengenalan tentang Allah tidaklah cukup dan bahkan berbeda dengan mengalami Allah. Seseorang bisa mengenal Allah melalui berbagai pengetahuan atau literatur, namun belum tentu orang tersebut mengalami Allah. Sebagai contoh, secara profesi seorang guru agama adalah seorang yang berkecimpung dalam konsep atau pemahaman tentang ilmu ke-Allah-an. Akan tetapi, itu sebatas ranah kognisi saja. Sementara itu ranah afeksinya sama sekali tidak tersentuh oleh sapaan Allah sebagai mengalami Allah. Ketika kita merabah pada area Allah, maka kita tidak dapat terlepas dari dua kata yang sangat lekat dengan upaya manusia untuk mengenal Allah, yaitu cataphatic dan apophatic[8]. Keduanya merupakan jalan yang telah ditempuh berabad-abad dalam rangka mengembangkan spiritualitas.