tetap berharap belas kasihan
Renungan malam:
Kebencian itu kadang diungkapkan lewat kemarahan dan upaya
membalas si 'musuh'. Kadang juga dengan cara membuang jauh-jauh
semua hal yang pernah menjadi kenangan manis, seperti foto berdua,
pemberian tanda cinta, dst.
Murka Allah atas pengkhianatan umat-Nya memang mengerikan. Allah
menghancurkan Yerusalem habis-habisan. Allah menghempaskan
kemuliaan (1-2) dan melemahkan kekuatan (3) Yerusalem. Ia
menjadikan umat-Nya musuh yang harus dibasmi, yaitu sebagai
sasaran bidik panah-Nya (4-5). Semua simbol relasi mereka dengan
Diri-Nya seperti bait Allah dan mezbah, para pemimpinnya, serta
tembok kotanya dimusnahkan (6-9).
Apa yang terjadi pada Yerusalem begitu mengenaskan sehingga respons
yang tersisa dari penduduknya hanyalah berkabung tanpa dapat
berkata-kata (10), termasuk untuk menjawab rengekan anak-anak
mereka meminta makanan (12). Tidak seorang pun dapat menghibur
Yerusalem. Para nabi palsu yang dahulu menyesatkan mereka dengan
nubuat palsu, sekarang bungkam (14), bahkan bangsa sekeliling
justru menyoraki mereka (15-16).
Ratapan 2 ini tidak ditutup dengan perasaan putus asa yang berujung
pada 'bunuh diri' atau perbuatan nekad lainnya.Peratap mengajak
pembaca untuk membuka diri kepada Allah dengan tangis penyesalan
yang mendalam sambil berharap pada belas kasih Allah (18-22).
Inilah seruan iman bahwa Allah tetap mengasihi mereka.Allah memang
telah bertindak keras, tetapi Ia tidak pernah menyangkal kasih
setia-Nya.
Pengharapan yang diungkap si peratap terjawab tuntas dalam kematian
dan kebangkitan Kristus. Murka Allah yang dicurahkan, telah
ditanggung Kristus di salib. Kita yang percaya beroleh pengampunan
dan pemulihan!
Murkah Allah terhadap ( Simon 2:1-22)
11 November 2020
Persahabatan atau pernikahan yang dikhianati sepihak sering
menimbulkan kebencian yang mendalam dari pihak yang disakiti.Kebencian itu kadang diungkapkan lewat kemarahan dan upaya
membalas si 'musuh'. Kadang juga dengan cara membuang jauh-jauh
semua hal yang pernah menjadi kenangan manis, seperti foto berdua,
pemberian tanda cinta, dst.
Murka Allah atas pengkhianatan umat-Nya memang mengerikan. Allah
menghancurkan Yerusalem habis-habisan. Allah menghempaskan
kemuliaan (1-2) dan melemahkan kekuatan (3) Yerusalem. Ia
menjadikan umat-Nya musuh yang harus dibasmi, yaitu sebagai
sasaran bidik panah-Nya (4-5). Semua simbol relasi mereka dengan
Diri-Nya seperti bait Allah dan mezbah, para pemimpinnya, serta
tembok kotanya dimusnahkan (6-9).
Apa yang terjadi pada Yerusalem begitu mengenaskan sehingga respons
yang tersisa dari penduduknya hanyalah berkabung tanpa dapat
berkata-kata (10), termasuk untuk menjawab rengekan anak-anak
mereka meminta makanan (12). Tidak seorang pun dapat menghibur
Yerusalem. Para nabi palsu yang dahulu menyesatkan mereka dengan
nubuat palsu, sekarang bungkam (14), bahkan bangsa sekeliling
justru menyoraki mereka (15-16).
Ratapan 2 ini tidak ditutup dengan perasaan putus asa yang berujung
pada 'bunuh diri' atau perbuatan nekad lainnya.Peratap mengajak
pembaca untuk membuka diri kepada Allah dengan tangis penyesalan
yang mendalam sambil berharap pada belas kasih Allah (18-22).
Inilah seruan iman bahwa Allah tetap mengasihi mereka.Allah memang
telah bertindak keras, tetapi Ia tidak pernah menyangkal kasih
setia-Nya.
Pengharapan yang diungkap si peratap terjawab tuntas dalam kematian
dan kebangkitan Kristus. Murka Allah yang dicurahkan, telah
ditanggung Kristus di salib. Kita yang percaya beroleh pengampunan
dan pemulihan!